Jumat, 20 Desember 2013

TARIAN JAWA DI JAWA TENGAH



        Indonesia, terkenal akan banyak budaya. Terlalu banyak budaya-budaya yang ada, namun salah dari sekian banyak budaya. Terdapat 1 budaya dan bias diturunkan ke anak cucu untuk dilestarika. “Tari Jawa” tari jawa sangat banyak macam, dari tari-tari jawa tersebut mempunyai makna masing. 

       Tari sering disebut juga  “beksa” , kata "beksa" berarti “ambeg” dan “esa” , kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.

       Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan/diexpresikan melalui gerak-gerak oragan tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Beberapa “Tari Jawa” yang terdapat di Jawa Tengah :

A .Tarian Serimpi 
     merupakan tarian bernuansa mistik yang berasal dari Yogyakarta. Tarian ini diiringi oleh gamelan jawa. Tarian ini dimainkan oleh dua orang penari wanita. Nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tarian ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda. 



 B. Tarian Gambyong
      merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang. Sebab, kendang itu biasa disebut otot tarian pan pemandu gendhing.




C. Tarian Merak
      merupakan tari paling populer di Tanah Jawa. Seperti namanya, tarian merak merupakan tarian yang melambangkan gerakan-gerakan burung merak. Penari umumya memakai selendang yang terikat dipinggang, yang jika dibentangkan akan menyerupai sayap burung.





















Kamis, 19 Desember 2013

SINAU TEMBANG MACAPAT

1.MIJIL
Tembang mijil mempunyai arti lahir. Tempang mijil mempunyai sifat prihatin, ngemurasa, lega.
2.MASKUMAMBANG
Tembang maskumambang mempuyai sifat ngeres dan nelangsa
3.KINANTI
Temabang maskumambang mempunyai sifat tresna, asih, dan seneng.
4.SINOM
Tembang sinom mempunyai arti iseh enom. Tembang sinom mempunyai sifat grapyak.
5.DHANDHANGGULA
Tembang dhandhanggula mempunyai sifat luwes, ngeresepake
6.ASMARADANA
Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Mempunyai sifat kemsem.
7.GAMBUH
Gambuh atau Gampang Nambuh. Mempunyai sifat semanak, lucu, dan guyon
8.DURMA
Munduring tata karma. Mempunyai sifat galak dan nesu
9.PANGKUR
Tembang pangkur mempunyai sifat nepsu dan prihatin
10.MEGATRUH
Megat ruh, yang mempunyai arti putusnya nyawa dan raga. Di tembang megatruh mempuyai sifat getun dan ngelangut.
11.POCUNG
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati dibungkus kain kafan. Mempunyai sifat sedih

 TITIKANNE TEMBANG MACAPAT  :
1 mijil                          :6 10i 6o 10e 10i 6i 6a
2 maskumambang        :4 12i 6a 8i 8a

3 Kinanthi                    :6 8u 8i 8a 8i 8a 8i

4 Sinom                       : 9 8a 8i 8a 8i 7i 8u 7a 8i 12a

5 Asmaradana              :7 8i 8a 8e 8a 7a 8u 8a

6 Durma                      :7 12a 7i 6a 7a 8i 5a 7i

7 Dhandanggula           :10 10i 10a 8e 7u 9i 7a 6u 8a 12i 7a

8 Gambuh                    :5 7u 10u 12i 8u 8o

9 Pangkur                    :7 8a 11i 8u 7a 12u 8a 8i

10 Megatruh                :5 12u 8i 8u 8i 8o

11 Pocung                    : 4 12u 6a 8i 12a

KARAWITAN

                       1.   Kendhang
       Fungsi utama dari kendhang untuk mengatur irama. Kendhang ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendhang yang kecil disebut dengan ketipung, yang menengah disebut kendhang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendhang gedhe biasa disebut kendhang kalih.                
                 2.  Damung, saron, peking
       Alat ini berbentuk bilahan dengan enam atau tujuh bilah (satu okataf)
Ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Instrumen ini ditabuh dibuat dari kayu. Menurut ukuran dan fungsinya , terdapat 3 jenis saran :
a.       Demung (paling besar)
Demung ini berukuran besar dan beroktaf tengah. Demung memainkan balungan gendhing dalam wilayahnya yang terbatas. Umumnya , satu perangkat gamelan mempunyai satu atau dua demung. Tetapi ada gamelan dikraton yang mempunyai lebih dari dua demung.
b.      Saron (sedang)
Alat ini berukuran sedang dan beroktaf tinggi.
Seperti demung, saron barung dimainkan balungan dalam wilayahnya yang terbatas. Pada teknik tabuhan imbal-imbalan, dua saron memainkan lagu jalin-menjalin bertempo yang cepat. Seperangkat gamelan mempunya dua saron, tetapi ada gamelan yang mempunyai lebih dan dua saron.
c.       Peking (paling kecil)
Berbentuk saron yang paling kecil dan beroktaf paling tinggi. Saron penerus atau peking ini memainkan tebuhan rangkap dua atau rangkap empat lagu balungan.

3.Gong dan kempul
        Gong menandai permulaan dan akhiran gendhing dan memberi keseimbangan setelah berlalunya kalimat lagu gendhing yang panjang. Gong sangat penting untuk menandai berakhirnya satuan kelompok dasar lagu, sehingga kelompok itu sendiri (yaitu kalimat lagu diantara dua tabuhan gong) dinamakan gongan.
Ada dua macam gong :
a.       Gong ageng , dan
b.      Gong suwukan atau gong siyem yang berukuran sendang
     4.  Bonang
        Bonang dibagi menjadi dua jenis yaitu bonang barung dan bonang penerus. Perbedaanya pada besar dan kecilnya saja, dan juga pada cara memainkan iramanya.
Bonang barung berukuran besar , beroktaf tengah sampai tinggi, adalah salah satu instrumen-instrumen pemuka dalam ansambel. Pada jenis gendhing bonang, bonang barung memainkan pembuka gendhing dan menuntun alur lagu gendhing. Bonang penerus adalah bonang yang kecil, beroktaf tinggi. Pada teknik tabuhan pipilan, irama bonang penerus memiliki kecepatan dalam bermain dua kali lipat dari pada bonang barung.
                5.Slenthem
      Menurut konstruksinya, slenthem termasuk keluarga gender malahan kadang-kadang ia dinamakan gender panembung. Tetpai slenthem mempunya bilah banyak saron. Slenthem beroktaf paling rendah dalam kelompok instrumen saron. Seperti demung dan saron barung, slenthem memainkan lagu balungan dalam wilayahnya yang terbatas.
               6.Kethuk dan Bonang
     Kenong merupakan satu set instrumen jenis mirip gong yang berposisi horizontal, ditumpangkan pada tali yang ditegangkan pada bingkai kayu. Dalam member batasan struktur suatu gendhing, kenong adalah instrument kedua yang paling penting setengah gong.
Kethuk sama dengan kenong, fungsinya juga sama dengan kenong. Kethuk dan kenong selalu bermain jalin-menjalin, perbedaannya pada irama bermainnya saja.
              7. Gender
      Instrumen terdiri dari bilah-bilah metal ditegangkan dengan tali di atas bumbung-bumbung resonator.
Gender ini dimainkan dengan tabuh berbentuk bulat (dilingkari lapisan kain) dengan tangkai pendek.
Sesuai dengan fungsi lagu, wilayah nada, dan ukurannya, ada dua macam gender:
- gender barung dan
- gender panerus.
             8. Gambang
      Instrumen dibuat dari bilah – bilah kayu dibingkai pada gerobogan yang juga berfungsi sebagai resonator.Berbilah tujuh-belas sampai dua-puluh bilah, wilayah gambang mencakup dua oktaf atau lebih.Gambang dimainkan dengan tabuh berbentuk bundar dengan tangkai panjang biasanya dari tanduk/sungu.Kebanyakan gambang memainkan gembyangan (oktaf) dalam gaya pola pola lagu dengan ketukan ajeg.Gambang juga dapat memainkan beberapa macam ornamentasi lagu dan ritme, seperti permainan dua nada dipisahkan oleh dua bilah, atau permainan dua nada dipisahkan oleh enam bilah, dan pola lagu dengan ritme – ritme sinkopasi
            .9.  Rebab
      Instrumen kawat-gesek dengan dua kawat ditegangkan pada selajur kayu dengan badan berbentuk hati ditutup dengan membran (kulit tipis) dari babad sapi.Sebagai salah satu dari instrumen pemuka, rebab diakui sebagai pemimpin lagu dalam ansambel, terutama dalam gaya tabuhan lirih.
Pada kebanyakan gendhing-gendhing, rebab memainkan lagu pembuka gendhing, menentukan gendhing, laras, dan pathet yang akan dimainkan. 
            10. Siter
      Siter merupakan bagian ricikan gamelan yang sumber bunyinya adalah string (kawat) yang teknik menabuhnya dengan cara di petik. Jenis instrumen ini di lihat dari bentuk dan warna bunyinya ada tiga macam, yaitu siter, siter penerus (ukurannya lebih kecil dari pada siter), dan clempung (ukurannya lebih besar dari pada siter). Dalam sajian karawitan klenengan atau konser dan iringan wayang fungsi siter sebagai pangrengga lagu.
           11.  Suling

      Jenis instrumen gamelan lainnya yang juga berfungsi sebagai pangrengga lagu adalah suling. Instrumen ini terbuat dari bambu wuluh atau paralon yang diberi lubang sebagai penentu nada atau laras. Pada salah satu ujungnya yaitu bagian yang di tiup yang melekat di bibir diberi lapisan tutup dinamakan jamangan yang berfungsi untuk mengalirkan udara sehingga menimbulkan getaran udara yang menimbulkan bunyi atau suara Adapun teknik membunyikannya dengan cara di tiup. Di dalam tradisi karawitan, suling ada dua jenis, yaitu bentuk suling yang berlaras Slendro memiliki lubang empat yang hampir sama jaraknya, sedangkan yang berlaras Pelog dengan lubang lima dengan jarak yang berbeda. Ada pula suling dengan lubang berjumlah enam yang bisa digunakan untuk laras Pelog dan Slendro. Untuk suling laras Slendro dalam karawitan Jawatimuran apabila empat lubang di tutup semua dan di tiup dengan tekanan sedang nada yang dihasilkan adalah laras lu (3), sedangkan pada karawitan Jawatengahan lazim dengan laras ro (2).

Selasa, 17 Desember 2013

NGENALI PUNAKAWAN


         Siapa yang tidak tahu dengan wayang ‘Punakawan’ empat sekawan yang terdari dari semar, gareng, petruk, dan bagong ini. Tokoh punakawan sangat terkenal di daerah Jawa khususnya, tidak hanya jawa tengah, jawa barat bahkan bali mempunyai versi punakawan masing-masing.
        Dalam pewayangan Sunda (Jawa Barat), punakawan disana lebih dikenal dengan wayang golek. Yang tokohnya terdiri dari Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng. Namun, ditokoh punakawan sunda yang lebih di unggulkan yaitu Cepot.

       Dalam pewayangan Bali, ada empat karakter utama punakawan yang memiliki banyak kemiripan dengan punakwan Jawa. Yang terdiri dari Tualen, Merdah, Sangut, dan Delem. Keempatnya mewakili sikap umat manusia yang diklasifikasikan ke dalam empat gambaran umum.


 

Dan dalam wilayah Jawa Tengah yang kita kenal selama ini terdiri dari : Semar, Gareng , Petruk , dan Bagong.

       Semar disini memiliki bentuk fisik yang sangat unik, merupakan simbolisasi berbagai dualisme di jagat raya ini. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar dilukiskan selalu tersenyum tapi matanya selalu sembab dan mengeluarkan air mata. Penggambaran ini adalah simbol dualisme suka dan duka yang menyertai manusia. Wajah Semar yang terlihat tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil. Ini sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki tapi memiliki payudara seperti perempuan. Ini merupakan simbol maskulinitas dan feminitas. Semuanya dapat ditafsirkan bahwa Semar adalah simbol manunggalnya bawahan dan atasan, manunggalnya yang profan dan yang sakral manunggaling kawula lan gusti.
       Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng. tapi, masayarakat luas lebih mengenalnya dengan nama Gareng. Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa atau simbolisasi dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu berhati-hati dalam bertindak. Selain itu, cact fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak miliki orang lain.
      Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa yang cukup dikenal karena penggambaran hidungnya yang sangat mancung. Di tanah Pasudan, Petruk lebih dikenal dengan nama Dawala atau Udel. Menurut pedalangan, Petruk adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat di dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya, ia bernama Bambang Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku, dan senang berkelahi.
     Bagong adalah nama bungsu Semar. Tokoh bagong disini dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal dan terkesan memble. Gaya bicara Bagong yang terkesan semaunya sendiri. Dibandingkan dengan ketiga punakawan lainnya. Maka Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama.
                                                     ( Semar, Gareng, Petruk dan Bagong )



Senin, 16 Desember 2013

SINAU UNGGAH-UNGGUH BAHASA JAWA

           Sebagai masyarakat jawa yang notabennya terlahir dan tumbuh di dalam jawa, tentunya sangatlah berbeda dengan lingkungan masyarkat yang lainnya. Sebagai individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial , mau dan tidak mau harus berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya yang sangat lekat dengan budaya.
          Dalam berinteraksi masyarakat jawa pasti memerhatika bahasa yang digunakan. Tentunya bahasa yang digunakan sesuai dengan siapa yang diajak berbicara. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang mengenal adanya tingkat tutur atau undha-usuk basa atau unggah-ungguh basa. Adanya tingkat tutur dalam bahasa jawa merupakan adat sopan santun berbahasa Jawa. Sopan santun ini mencerminkan perilaku kebahasaan yang sebenarnya juga tercermin dari perilaku masyarakat.
Undha-usuk bahasa Jawa zaman kejawen mengenal enam tingkat tutur. Sedangkan undha-usuk di zaman modern mengenal dua tingkat tutur (Harjawiyana dan Supriya, 2001:18). Tingkat tutur tersebut adalah :
Undha-usuk basa dizaman kejawen
1.    Basa ngoko » ngoko lugu
                            » ngoko andhap » antya basa
                                                      » basa antya
2.    Basa madya » madya ngoko
                             » madyantara
                             » madya krama
3.    Basa krama desa
4.    Basa krama » mudha krama
                            » kramantara
                            » wredha krama
5.    Basa krama inggil
6.    Basa kedhaton
Undha-usuk basa dizaman modern
1.    Basa ngoko » ngoko lugu
                            » ngoko alus
2.    Basa krama » krama lugu
                            » krama alus

Bahasa bersifat dinamis, Artinya akan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Hal ini berlaku juga untuk bahasa Jawa.
Setelah diungkap pada bagian pendahuluan bahwa tingkat tutur bahasa Jawa semakin sederhana. Tingkat tutur bahasa Jawa digolongkan menjadi dua, yaitu ngoko dan krama. Ngoko dibagi menjadi dua, yaitu ngoko lugu dan ngoko alus, sedangkan krama dibagi menjadi dua, yaitu krama lugu dan krama alus.
A.    Ngoko Lugu
Digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang kedudukan atau statusnya lebih rendah, misalnya guru dengan murid.
Contoh : “saiki uwes padha mudeng apa urung? ”
B.    Ngoko Alus
digunakan untuk menghormati orang lain yang diganti menjadi krama inggil kalau tidak ada makan tetap menggunakan ngoko. Misalnya anak dengan orang  yang lebih tua atau teman sepantaran.
contoh : “ Guru sing anyar iku asmane sapa?”
C.    Krama Lugu
Digunakan oleh peserta tutur yang belum atau tidak akrab, misalnya baru kenal.
Contoh : “ Nyuwun sewu, samenika kula dereng kenal sampeyan”
D.    Krama Alus
Digunakan untuk mengormati orang yang lebih tinggi stratanya atau tingkat umurnya.
Contoh : “Simbah gerah sampun tingan dinten menika”

Minggu, 15 Desember 2013

NGENAL GEGURITAN

GEGURITAN
         Geguritan kaperang dadi loro yaiku geguritan tradisional lan geguritan modern.
Geguritan tradisional kuwi geguritan nganggo paugeran-paugeran tertamtu kayata cacahing larik saben pada (bait). Cacahing wanda saben larik uga dhongdhinge swara. Kang kagolong geguritan tradisional antara liya yaiku parikan, wangsalan, tembang macapat, tembang tengahan lan tembang gedhe.
         Geguritan modern ora diwatesi pathokan-pathokan lan paugeran kaya kang ana ing geguritan tradisional. Tegese saben padha ora ditemtokake cacahing larik . saben larik ora ditemtokake cacahing wanda lan dhongdinge swara. Mula geguritan modern uga diarani geguritan bebas utawa kang saiki lumrah diarani geguritan.
Geguritan kuwi duweni sifat pada karo puisi Indonesia modern. Ana geguritan sing duweni sifat penteng (prismatis) lan ana sing duweni sifat padhang (transparan). Kuwi tergantung angel lan gampang anggone maca nganti mudeng .

Tuladha geguritan

SERBA SALAH
Tekane marake wong gelisah
Swarane marakke nentremake jiwa
Aku ora mudeng sing dikarepake
    Kebak wong gersula
    Ana kang ngarep-ngarep
    Ana kang muni-muni
    Amarga tekamu
Ya, aku ngerti
Aku dadi posisimu
Bakal serba salah
Aku ngerti
Kang mbok rasakake udan......


Kamis, 05 Desember 2013

dream


        Kamu pasti punya mimpi yang gila kan? Segila apa mimpi kamu? Apakah segila mimpiku . aku punya mimpi yang bisa dibilang mimpi itu gak bakal aku capai, banyak orang yang bilang “nggak mungkin”. Aku punya mimpi pengen jadi selebriti yang dikenal banyak orang seluruh Indonesia, nggak hanya se-indonesia tapi aku pengen terkenal sedunia, itu mimpi gilaku. Berusaha ingin mencapai mimpi yang hanya terbayang-bayang setiap hari, tapi apa dikata banyak halangan yang harus kulalui dan harus kuterima.aku ingin menjadi seorang model yang profersional, nggak hanya cantik yang ditampilkan tapi wawasan juga jadi pertimbangan. Beberapa ajang aku ikuti seperti DUTA WISATA SALATIGA 2011, PUTRA_PUTRI BATIK SEMARANG 2011, dan berbagai event model yang ditawarkan. Namun, keberuntungan tak pernah datang padaku. Aku selalu tersisih dengan lawan-lawanku, itu yang membuatku selalu putus asa dan membuat selalu minder gak bisa sama seperti lawan-lawanku. Banyak lagi halangan yang harus kulalui, bapak tak mendukung apa yang aku inginkan. Selalu berfikir kegiatan seperti itu tak mendapat keuntungan tak bermanfaat hanya hura-hura. Aku tahu apa tujuan bapak berfikir seperti itu, tapi salah satu sisi aku merasa tak ada gunanya lagi aku berjalan dijalan yang tak direstui orangtua, itu membuat perasaan tak tenang.



                   Kuputuskan tahun 2012 kukurangi kegiatanku dibidang modeling aku lebih ingin membahagian orang tuaku melihat mereka bangga atas apa yang kuberikan. Namun, aku tak pernah bisa membuat bangga aku yakin bukannya aku tak bisa membahagiakan mereka tapi waktu untuk membuktikan belum tepat.          Kuingin terus berjalan menggapai mimpiku yang ingin menjadi seorang yang terkenal yang dikenal beberapa orang karna aku memiliki kemampuan yang bisa dipertimbangkan. Aku ingin orang tuaku mengucapkan “selamat” kepadaku dengan apa yang aku dapatkan, dan ibu mecium keningku dengan membisikan satu kalimat yang ingin aku dengar dari mulut ibu. selamat nak ibu , bangga dengan apa yang peroleh !